Halo dan selamat datang di serialsilat.com
Home Resensi Ruang Baca Galeri Forum Serbaneka Kontak

MOMEN YG MENYENTUH

Enam Belas Tahun

Bukankah enam belas tahun telah berlalu?

Penantian Yang Guo selama enam belas tahun untuk istrinya, Xiao Longnui, merupakan salah satu tanda cinta yang paling mengesankan dalam dunia persilatan. Waktu itu mereka berdua sama-sama terkena racun dan obat yang tersedia hanya bisa menyembuhkan Yang Guo saja, sehingga sang suami menolak untuk makan obat tersebut dan lebih memilih untuk mati bersama. Menginginkan suaminya dapat tetap hidup, Xiao Longnui terjun ke dalam jurang dengan meninggalkan pesan agar Yang Guo mau menunggunya kembali setelah enam belas tahun (dan karenanya harus memakan obat tersebut). Xiao Longnui berharap setelah enam belas tahun Yang Guo dapat melupakannya.

Namun, enam belas tahun kemudian, Yang Guo tidak (dan tidak akan pernah) melupakannya. Menyadari istrinya telah mati enam belas tahun silam, ia pun ikut terjun ke dalam jurang.

Di bawah jurang ia menemukan sebuah rumah sederhana...


Dari Sin-tiauw-hiap-lu, Jilid 20, Halaman 1636-1637
Terjemahan Boe-beng-tjoe, Terbitan Mekar Djaja

"Aku si orang she Yo datang berkundjung, harap aku diidjinkan bertemu tuan rumah!" katanja.

Ia tidak mendengar djawaban. Ia ulangi permintaannja itu. Tetapi ia dihadapi kesunjian. Karena ini ia menghampirkan pintu, ia menolak daunnja.

"Blak!" pintu itu terbuka.

Dengan hati2 Yo Ko bertindak masuk. Segera hatinja bertjekat. Perabotan rumah itu buruk tetapi segalanja bersih. Tjuma ada sebuah medja dan sebuah kursi. Tidak ada barang lainnja. Pernahnja kursi-medja itu mengingatkan ia sesuatu. Jalah itu sama dengan kursi-medja di dalam kamar dari pekuburan tua. Tanpa bersangsi lagi, ia menudju ke kanan hingga ia berada di sebuah kamar ketjil.

Setelah ini ada sebuah kamar jang terlebih besar. Di sini ada kursi-medja, ada pembaringan, jang pun sama dengan apa jang ada di dalam di pekuburan tua.

Ia dapatkan kalau di dalam kuburan tua itu semua terbuat dari batu, di sini terbikin dari kaju. Di kanan itu terletaknja pembaringan, ia lihat itulah pembaringan jang mirip han-giok-tjhung peranti ia berlatih dulu hari. Tergantung di situ ada sebuah dadung pandjang. Itu pun sama dengan dadung peranti ia rebah mempeladjari ilmu enteng tubuh. Di depan djendela ada sebuah medja ketjil. Itulah medja tempat membatja buku dan menulis disamping itu berdiri sebuah almari kasar. Ia buka tutupnja almari itu. Di situ ada beberapa potong badju anak2, jang terbuat dari babakan pohon. Itulah pakaian jang mirip dengan jang dulu-hari di dalam pekuburan yang Siauw Liong Lie bikin untuknja.

Begitu lekas ia meng-usap2 medja dan pembaringan itu, airmata Yo Ko lantas mengutjur deras, tak dapat ia menahannja, hingga udjung badjunja basah.

Ia tengah bersedih ketika ia merasakan ada tangan halus jang dengan perlahan meng-usap2 rambutnja dan kupingnja pun mendengar pertanjaan, "Ko-djie, kenapa kau berduka?"

Nada suara itu, usapannja, semua itu mirip sama suara dan utjapannja Siauw Liong Lie dulu hari ketika ia dihiburkan. Ia lantas menoleh. Ia melihat di depannja berdiri seorang nona dengan badju putih, kulit putih djuga, romannja tjantik seperti dulu. Karena dialah orang jang selama enambelas tahun, siang ia pikirkan, malam ia impikan, jalah Siauw Liong Lie!

Keduanja berdiri mendjublak, mata mereka saling mengawasi. Kemudian, dengan sama2 memperdengarkan suara "Oh!" keduanja saling rangkul. Masih mereka ragu2, mereka benar dalam keadaan hidup atau mimpi atau chajal...

Bukankah enambelas tahun telah berlalu?





« Kisah Cinta Pedang Langit & Golok Naga »

Peta Situs Buku Tamu Hubungi Saya
Serial Silat © 2003. All rights reserved. Serial Silat is a registered trademark of TungNing.com.
All copyrights to pictures and story translations belong to their respective owners and translators. Reproduction or reprinting in its whole entirety or parts, on any medium, including the Internet, without permission is prohibited.
HALAMAN MUKA |  RESENSI |  RUANG BACA |  GALERI |  SERBANEKA |  FORUM |  CHAT |  HUBUNGI SAYA