Dari Sin-tiauw-hiap-lu, Jilid 20, Halaman 1636-1637
Terjemahan Boe-beng-tjoe, Terbitan Mekar Djaja

"Aku si orang she Yo datang berkundjung, harap aku diidjinkan bertemu tuan
rumah!" katanja.
Ia tidak mendengar djawaban. Ia ulangi permintaannja itu. Tetapi ia dihadapi
kesunjian. Karena ini ia menghampirkan pintu, ia menolak daunnja.
"Blak!" pintu itu terbuka.
Dengan hati2 Yo Ko bertindak masuk. Segera hatinja bertjekat. Perabotan
rumah itu buruk tetapi segalanja bersih. Tjuma ada sebuah medja dan sebuah
kursi. Tidak ada barang lainnja. Pernahnja kursi-medja itu mengingatkan ia
sesuatu. Jalah itu sama dengan kursi-medja di dalam kamar dari pekuburan
tua. Tanpa bersangsi lagi, ia menudju ke kanan hingga ia berada di sebuah
kamar ketjil.
Setelah ini ada sebuah kamar jang terlebih besar. Di sini ada kursi-medja,
ada pembaringan, jang pun sama dengan apa jang ada di dalam di pekuburan
tua.
Ia dapatkan kalau di dalam kuburan tua itu semua terbuat dari batu, di sini
terbikin dari kaju. Di kanan itu terletaknja pembaringan, ia lihat itulah
pembaringan jang mirip han-giok-tjhung peranti ia berlatih dulu hari.
Tergantung di situ ada sebuah dadung pandjang. Itu pun sama dengan dadung
peranti ia rebah mempeladjari ilmu enteng tubuh. Di depan djendela ada
sebuah medja ketjil. Itulah medja tempat membatja buku dan menulis disamping
itu berdiri sebuah almari kasar. Ia buka tutupnja almari itu. Di situ ada
beberapa potong badju anak2, jang terbuat dari babakan pohon. Itulah pakaian
jang mirip dengan jang dulu-hari di dalam pekuburan yang Siauw Liong Lie
bikin untuknja.
Begitu lekas ia meng-usap2 medja dan pembaringan itu, airmata Yo Ko lantas
mengutjur deras, tak dapat ia menahannja, hingga udjung badjunja basah.
Ia tengah bersedih ketika ia merasakan ada tangan halus jang dengan perlahan
meng-usap2 rambutnja dan kupingnja pun mendengar pertanjaan, "Ko-djie,
kenapa kau berduka?"
Nada suara itu, usapannja, semua itu mirip sama suara dan utjapannja Siauw
Liong Lie dulu hari ketika ia dihiburkan. Ia lantas menoleh. Ia melihat di
depannja berdiri seorang nona dengan badju putih, kulit putih djuga,
romannja tjantik seperti dulu. Karena dialah orang jang selama enambelas
tahun, siang ia pikirkan, malam ia impikan, jalah Siauw Liong Lie!
Keduanja berdiri mendjublak, mata mereka saling mengawasi. Kemudian, dengan
sama2 memperdengarkan suara "Oh!" keduanja saling rangkul. Masih mereka
ragu2, mereka benar dalam keadaan hidup atau mimpi atau chajal...
Bukankah enambelas tahun telah berlalu?