Halo dan selamat datang di serialsilat.com
Home Resensi Ruang Baca Galeri Forum Serbaneka Kontak

RINGKASAN CERITA
Bagian 1 |  Bagian 2 |  Bagian 3 |  Bagian 4

Kerajaan Song berada di dalam kondisi yang sangat lemah. Kaisar Song ditawan oleh bangsa Chin, sehingga pangeran Kang Wang lari menyeberang ke selatan dan menerima tahta kerajaan di kota Lin An, menjadi kaisar Song Selatan. Bukannya bangkit melakukan perlawanan setelah separuh negara (China Utara) dikuasai bangsa Chin, kaisar Kang Wang malah jera dan tidak berani melawan Chin. Ia mengeluarkan perintah untuk membunuh jenderalnya sendiri Yue Fei, seorang pendekar yang dengan gagah berani menentang musuh Chin, dan kemudian mengajukan permohonan perdamaian dengan Chin.

Tahun 1138 pakta perdamaian tersebut ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan menggunakan aliran sungat Huai Shui sebagai batas antar kedua negara. Namun hanya namanya saja yang Pakta Perdamaian, pada kenyataan sebenarnya Song menaklukkan diri kepada Chin. Setiap tahun Song harus mengirimkan upeti kepada kerajaan Chin. Keadaan negara pun begitu buruk, kaisar dan menteri-menterinya setiap hari kerjanya hanyalah berpesta-pora, sama sekali tidak memikirkan kepentingan negara.

Keluarga Yang dan Guo
Di sebelah timur kota Hang zhou, di sebuah dusun bernama Niu Jia Cun, dua orang kakak-beradik angkat, yang satu bernama Yang Tiexin dan yang lainnya bernama Guo Xiaotian, sedang duduk-duduk sambil minum arak. Baik Yang Tiexin dan Guo Xiaotian merupakan keturunan dari orang-orang ternama, Yang Tiexin adalah keturunan langsung dari panglima Yang Zai Xing bawahan dari Jenderal Yue Fei, sedangkan Guo Xiaotian merupakan keturunan dari sai-ren-gui Guo cheng, salah seorang dari seratus delapan orang jagoan dari gunung Liang Shan yang terkenal dengan ilmu silat tombaknya.

Mereka mengeluhkan jatuhnya setengah dari Dinasti Song kepadanya Dinasti Chin dan merasa sangat marah akan ketidakbecusan pemerintahan Song saat itu. Bao Xiruo, istri dari Yang Tiexin, keluar dari ruangan dalam dan ikut bergabung dengan mereka. Di Lin An Bao Xiruo dikenal sebagai wanita tercantik dan memiliki budi pekerti yang sangat halus. Ia menyulang kepada iparnya Guo Xiaotian, karena rupanya sang istri Li Ping baru diketahui telah mengandung 3 bulan selama ini.

Saat itu dari arah timur terlihat seorang pendeta Tao, yang belakangan diketahui bernama Qiu Chuji, melintas dengan cepat dan cekatan melewati rumah mereka, menunjukkan ilmu silatnya yang hebat. Bermaksud mengundangnya berteduh sejenak di rumahnya, karena salju sedang turun dengan lebatnya saat itu, Yang Tiexin mengejar dan memanggilnya. Akan tetapi sang pendeta malah menanggapi dengan dingin dan tak bersahabat. Sang pendeta rupanya sedang melarikan diri dari kejaran pasukan Song karena baru membunuh seorang pejabat pengkhianat bernama Ong Too Kian. Ia menyangka Yang Tiexin memiliki maksud jahat, sehingga menanggapi niat baik Yang Tiexin tersebut dengan tidak bersahabat sehingga terjadi kesalahpahaman dan pertempuran antar mereka. Mereka berhenti setelah Qiu Chuji mengetahui bahwa Yang Tiexin dan Guo Xiaotian adalah keturunan dari orang-orang yang setia.

Pasukan Song, berpakaian serba hitam, yang mengejar Qiu Chuji dengan menunggang kuda tak lama berselang berhasil menyusul. Dengan gagah berani Qiu Chuji melawan dan berhasil membunuh mereka semua. Saat ia menggeledah mereka, ia menemukan rupanya pasukan Chin ada termasuk di antara pasukan Song yang telah mengejarnya itu.

Mereka membersihkan dan menguburkan mayat prajurit yang terbunuh. Bao Xiruo terjatuh kelelahan saat membersih sisa darah dari mayat-mayat tersebut. Saat diperiksa oleh Qiu Chuji, diketahui rupanya Bao Xiruo pun sedang mengandung anaknya yang pertama. Suatu berita yang sungguh menggembirakann bagi kedua keluarga Yang dan Guo itu. Yang Tiexin dan Guo Xiaotian kemudian meminta kesediaan Qiu Chuji untuk menamai kedua bayi mereka yang masih berada di dalam kandungan itu. Qiu Chuji teringat akan sebuah lagu berjudul “Jing Kang” yang berkisah tentang tragedi yang dialami Jenderal Yue Fei, yang mati bagi negaranya. Sehingga ia pun menamai bayi keluarga Guo dengan Guo Jing dan menamai bayi keluarga Yang dengan Yang Kang, dengan harapan untuk mengingatkan kedua bayi tersebut saat mereka tumbuh dewasa kelak mereka harus mempertahankan negara dan bangsa mereka dengan nyawa mereka sendiri.

Sore hari itu, saat Bao Xiruo pergi ke belakang rumah, ia melihat tanda-tanda darah melintas di luar pintu belakang. Ia kemudian melihat seorang berpakaian hitam, salah satu dari mereka yang telah mengepung Qiu Chuji, terbaring di belakang rumah. Laki-laki itu terluka karena pertempuran, namun tidak mati dan lari ke belakang rumah. Bao Xiruo yang berhati emas itu, memutuskan untuk mengobatinya. Keesokan paginya sang pria yang terluka itu telah pergi, membuat hati Bao Xiruo merasa sangat lega. Bao Xiruo tidak mengetahui bahwa peristiwa itu akan membawa suatu dampak besar dalam kehidupan keluarganya dan juga keluarga Guo. Suatu dampak yang sangat besar!


Bagian 2 »


« Pengantar Profil Tokoh »

Peta Situs Buku Tamu Hubungi Saya
Serial Silat © 2003. All rights reserved. Serial Silat is a registered trademark of TungNing.com.
All copyrights to pictures and story translations belong to their respective owners and translators. Reproduction or reprinting in its whole entirety or parts, on any medium, including the Internet, without permission is prohibited.
HALAMAN MUKA |  RESENSI |  RUANG BACA |  GALERI |  SERBANEKA |  FORUM |  CHAT |  HUBUNGI SAYA