|
|
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
RINGKASAN CERITA |
|
 |
|
|
|
Kerajaan Song berada di dalam kondisi yang sangat lemah. Kaisar Song ditawan
oleh bangsa Chin, sehingga pangeran Kang Wang lari menyeberang ke selatan dan
menerima tahta kerajaan di kota Lin An, menjadi kaisar Song Selatan. Bukannya
bangkit melakukan perlawanan setelah separuh negara (China Utara) dikuasai
bangsa Chin, kaisar Kang Wang malah jera dan tidak berani melawan Chin. Ia
mengeluarkan perintah untuk membunuh jenderalnya sendiri Yue Fei, seorang
pendekar yang dengan gagah berani menentang musuh Chin, dan kemudian mengajukan
permohonan perdamaian dengan Chin.
Tahun 1138 pakta perdamaian tersebut
ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan menggunakan aliran sungat
Huai Shui sebagai batas antar kedua negara. Namun hanya namanya saja yang
Pakta Perdamaian, pada kenyataan sebenarnya Song menaklukkan diri kepada Chin.
Setiap tahun Song harus mengirimkan upeti kepada kerajaan Chin. Keadaan negara
pun begitu buruk, kaisar dan menteri-menterinya setiap hari kerjanya hanyalah
berpesta-pora, sama sekali tidak memikirkan kepentingan negara.
Keluarga Yang dan Guo
Di sebelah timur kota Hang zhou, di sebuah dusun bernama Niu Jia Cun, dua orang
kakak-beradik angkat, yang satu bernama Yang Tiexin dan yang lainnya bernama
Guo Xiaotian, sedang duduk-duduk sambil minum arak. Baik Yang Tiexin dan Guo
Xiaotian merupakan keturunan dari orang-orang ternama, Yang Tiexin adalah
keturunan langsung dari panglima Yang Zai Xing bawahan dari Jenderal Yue Fei,
sedangkan Guo Xiaotian merupakan keturunan dari sai-ren-gui Guo cheng,
salah seorang dari seratus delapan orang jagoan dari gunung Liang Shan yang
terkenal dengan ilmu silat tombaknya.
Mereka mengeluhkan jatuhnya setengah dari Dinasti Song kepadanya Dinasti Chin dan
merasa sangat marah akan ketidakbecusan pemerintahan Song saat itu. Bao Xiruo,
istri dari Yang Tiexin, keluar dari ruangan dalam dan ikut bergabung dengan mereka.
Di Lin An Bao Xiruo dikenal sebagai wanita tercantik dan memiliki budi pekerti
yang sangat halus. Ia menyulang kepada iparnya Guo Xiaotian, karena rupanya
sang istri Li Ping baru diketahui telah mengandung 3 bulan selama ini.
Saat itu dari arah timur terlihat seorang pendeta Tao, yang belakangan diketahui
bernama Qiu Chuji, melintas dengan cepat dan cekatan melewati rumah mereka,
menunjukkan ilmu silatnya yang hebat. Bermaksud mengundangnya berteduh sejenak
di rumahnya, karena salju sedang turun dengan lebatnya saat itu, Yang Tiexin
mengejar dan memanggilnya. Akan tetapi sang pendeta malah menanggapi dengan dingin
dan tak bersahabat. Sang pendeta rupanya sedang melarikan diri dari kejaran pasukan
Song karena baru membunuh seorang pejabat pengkhianat bernama Ong Too Kian. Ia
menyangka Yang Tiexin memiliki maksud jahat, sehingga menanggapi niat baik Yang
Tiexin tersebut dengan tidak bersahabat sehingga terjadi kesalahpahaman dan
pertempuran antar mereka. Mereka berhenti setelah Qiu Chuji mengetahui bahwa
Yang Tiexin dan Guo Xiaotian adalah keturunan dari orang-orang yang setia.
Pasukan Song, berpakaian serba hitam, yang mengejar Qiu Chuji dengan menunggang
kuda tak lama berselang berhasil menyusul. Dengan gagah berani Qiu Chuji melawan
dan berhasil membunuh mereka semua. Saat ia menggeledah mereka, ia menemukan
rupanya pasukan Chin ada termasuk di antara pasukan Song yang telah mengejarnya itu.
Mereka membersihkan dan menguburkan mayat prajurit yang terbunuh. Bao Xiruo
terjatuh kelelahan saat membersih sisa darah dari mayat-mayat tersebut. Saat
diperiksa oleh Qiu Chuji, diketahui rupanya Bao Xiruo pun sedang mengandung
anaknya yang pertama. Suatu berita yang sungguh menggembirakann bagi kedua
keluarga Yang dan Guo itu. Yang Tiexin dan Guo Xiaotian kemudian meminta kesediaan
Qiu Chuji untuk menamai kedua bayi mereka yang masih berada di dalam kandungan itu.
Qiu Chuji teringat akan sebuah lagu berjudul “Jing Kang” yang berkisah tentang
tragedi yang dialami Jenderal Yue Fei, yang mati bagi negaranya. Sehingga ia pun
menamai bayi keluarga Guo dengan Guo Jing dan menamai bayi keluarga Yang dengan
Yang Kang, dengan harapan untuk mengingatkan kedua bayi tersebut saat mereka tumbuh
dewasa kelak mereka harus mempertahankan negara dan bangsa mereka dengan nyawa
mereka sendiri.
Sore hari itu, saat Bao Xiruo pergi ke belakang rumah, ia melihat tanda-tanda
darah melintas di luar pintu belakang. Ia kemudian melihat seorang berpakaian hitam,
salah satu dari mereka yang telah mengepung Qiu Chuji, terbaring di belakang rumah.
Laki-laki itu terluka karena pertempuran, namun tidak mati dan lari ke belakang rumah.
Bao Xiruo yang berhati emas itu, memutuskan untuk mengobatinya. Keesokan paginya sang
pria yang terluka itu telah pergi, membuat hati Bao Xiruo merasa sangat lega. Bao
Xiruo tidak mengetahui bahwa peristiwa itu akan membawa suatu dampak besar dalam
kehidupan keluarganya dan juga keluarga Guo. Suatu dampak yang sangat besar!
|
|
|
|
|
|
|
 |
 |
 |
 |
 |

|
|
 |
|
 |