Halo dan selamat datang di serialsilat.com
Home Resensi Ruang Baca Galeri Forum Serbaneka Kontak

MOMEN YG MENYENTUH
Perpisahan Xiao Zhao dan Zhang Wuji
Perpisahan antara Xiao Zhao dengan Zhang Wuji adalah salah satu momen yang paling menyentuh dalam Pedang Langit & Golok Naga. Demi menyelamatkan ibunya, Zhang Wuji, dan yang lainnya, Xiao Zhao harus mengorbankan dirinya menjadi Putri Suci Sekte Ming Persia dan berpisah dengan Zhang Wuji yang sangat dikasihinya.

Tidak ada yang lebih baik daripada cuplikan langsung dari novelnya untuk menceritakan momen tersebut:


Dari Ie-thian-to-liong, Bagian II, Jilid 2, Halaman 111-113
Terjemahan Boe-beng-tjoe, Terbitan Mekar Djaja

Boe Kie sendiri diantar ke sebuah kamar yang diperaboti mewah dan indah. Selagi ia mengeringkan air di badannya, tiba-tiba pintu diketuk dan ditolak. Seorang wanita yang kedua tangannya menyangga seperangkat pakaian bertindak masuk dan wanita itu adalah Siauw Ciauw.

"Kongcoe, biarlah aku melayani kau," kata si-nona.

Boe Kie merasa sangat terharu. "Siauw Ciauw," katanya, "sekarang kau sudah menjadi Kauw-coe dari Congkauw dan pada hakekatnya aku sendiri adalah orang sebawahanmu. Mana boleh kau melakukan lagi pekerjaan pelayan?"

"Kongcoe, inilah untuk penghabisan kali," kata si-nona. "Kita akan segera berpisahan jauh, jauh sekali, dan kita tak akan dapat bertemu pula. Sesudah aku berada di negeri orang, biarpun mau, tak bisa aku melayani kau lagi."

Boe Kie merasa hatinya hancur. Sambil menahan turunnya air mata, ia membiarkan si-nona melayaninya -- membantu ia memakai baju, mengancing baju, mengikat tali pinggang dan menyisir rambutnya. Sambil melakukan itu semua, air mata Siauw Ciauw terus mengalir turun dikedua pipinya.

Boe Kie tak dapat mempertahankan dirinya lagi. Tiba-tiba ia memeluk-memeluk erat-erat. Bagaikan bendungan pecah si-nona menangis tersedu-sedu. Dengan tubuh bergemetaran, ia balas memeluk. "Siauw Ciauw," bisik Boe Kie, "semula aku bahkan menduga kau berkhianat terhadapku. Tak dinyana, rasa cintamu begitu besar."

Sambil menyandarkan kepalanya pada dada yang lebar, si-nona berkata dengan suara perlahan: "Kongcoe, aku memang pernah menipu kau. Ibuku adalah salah seorang dari ketiga Seng-lie Cong-kauw. Ia mendapat perintah untuk datang di Tiong-goan guna melakukan suatu pekerjaan penting dengan pengertian, bahwa kalau nanti kembali di Persia, ia akan menduduki kursi Kauwcoe. Tak disangka, begitu bertemu dengan Ayah, Ibu jatuh cinta dan tidak dapat menguasai dirinya lagi. Ketika ayah meninggal dunia, aku masih berada didalam kandungan dan aku belum pernah melihat wajahnya. Ibu tahu, bahwa ia berdosa besar. Ia menyerahkan cincin besi Seng-lie kepadaku dan memerintahkan aku pergi ke Kong-beng-teng untuk mencuri sim-hoat (pelajaran) Kian-koen Tay-lo-ie. Kongcoe, di dalam hal ini, aku sudah menipu kau. Aku tidak memberitahukan hal yang sebenarnya kepadamu. Akan tetapi, hatiku bersih. Sedikitpun aku tak punya niatan untuk menjadi Kauw-coe dari Beng-kauw di Persia. Aku hanya mengharap untuk menjadi pelayanmu, untuk melayani kau seumur hidup, untuk tidak berpisahan denganmu selama-lamanya. Aku pernah memberitahukan harapanku itu kepadamu, bukan? Dan kau sendiri sudah meluluskan. Bukankah begitu?"

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya.

Sesudah berdiam sejenak, si-nona berkata pula: "Aku telah menghafal sim-hoat Kian-koen Tay-lo-ie, tapi aku menghafalnya bukan lantaran didorong oleh niatan untuk berkhianat terhadapmu. Kalau bukan karena terlalu kepaksa, aku pasti tidak akan memberitahukan mereka..."

"Sudahlah, kau tak usah bersedih lagi," bisik Boe Kie. "Sekarang aku sudah mengerti semuanya."

"Sedari kecil, aku sudah melihat kekuatiran Ibu," kata pula Siauw Ciauw. "Siang-malam, ia tak tenteram. Belakangan ia menyamar sebagai nenek yang bermuka jelek. Ia mengirim aku kepada lain keluarga dan hanya menengok aku setahun sekali atau dua tahun sekali. Kongcoe, kalau kau dan yang lain-lain tidak menghadapi kebinasaan, jangankan menjadi Kauwcoe, sekalipun menjadi ratu Persia, aku pasti akan menolak." Sehabis berkata begitu, ia menangis pula dengan badan gemetaran.

"Siauw Ciauw!" mendadak terdengar bentakan Taykis diluar kamar. "Jika kau tidak bisa menahan diri, itu berarti kau mengantarkan jiwanya Kongcoe."

Bagaikan dipagut ular, si-nona memberontak dari pelukan Boe Kie dan melompat mundur. "Kongcoe, jangan ingat-ingat aku lagi," katanya dengan suara parau. "In Kouwnio telah mengikuti Ibu dalam banyak tahun dan ia sangat mencintai kau. Ia akan menjadi seorang isteri yang budiman."

"Siauw Ciauw," bisik Boe Kie. "Mari kita menerjang keluar dan membekuk satu-dua Po-soe-ong. Kita bisa paksa mereka untuk mengantarkan kita ke Leng-coa-to."

Si-nona menggelengkan kepala. "Sekarang mereka sudah berjaga-jaga," katanya. "Tubuh Cia Tayhiap dan Co Kouwnio ditandalkan senjata. Kalau kita bergerak, mereka binasa." Seraya berkata begitu, ia membuka pintu. Di depan pintu berdiri Taykis yang punggungnya dituding dengan dua pedang oleh dua orang Persia. Kedua orang itu membungkuk, tapi pedang mereka tidak berkisar dari punggung Cie-san Liong-ong.

Dengan diikuti Boe Kie, si-nona berjalan keluar. Benar saja mereka melihat, bahwa Cia Soen dan yang lain-lain berada dibawah ancaman senjata.

"Kongcoe," kata Siauw Ciauw, "aku akan memberikan kau obat untuk mengobati luka In Kouwnio." Ia lalu bicara dalam bahasa Persia dan Kong-tek-ong segera mengeluarkan sebotol obat luar yang lalu diserahkan kepada Boe Kie. "Aku akan memerintahkan orang untuk emngantar kalian pulang ke Tionggoan," kata pula si-nona. "Sekarang saja kita berpisahan. Kongcoe, badan Siauw Ciauw berada di Persia, hatinya tetap bersama-sama kau. Siang dan malam aku berdoa supaya kau selalu sehat dan segala pekerjaan bisa berjalan lancar...." Ia tak dapat meneruskan perkataannya.

"Kau berada di sarang harimau, jagalah diri baik-baik," kata Boe Kie.

Si-nona mengangguk dan lalu memerintahkan orang untuk menyediakan perahu.

Sesudah Cia Soen, In Lee, Tio Beng dan Cie Jiak turun ke perahu, Siauw Ciauw segera memulangkan To-liong-to, Ie-thian-kiam dan enam Seng-hwee-leng kepada Boe Kie. Sambil tertawa sedih, ia mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan. Boe Kie berdiri terpaku. Ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata. Selang beberapa saat, dengan hati seperti tersayat pisau, ia melompat turun ke perahu.


« Kisah Cinta

Peta Situs Buku Tamu Hubungi Saya
Serial Silat © 2003. All rights reserved. Serial Silat is a registered trademark of TungNing.com.
All copyrights to pictures and story translations belong to their respective owners and translators. Reproduction or reprinting in its whole entirety or parts, on any medium, including the Internet, without permission is prohibited.
HALAMAN MUKA |  RESENSI |  RUANG BACA |  GALERI |  SERBANEKA |  FORUM |  CHAT |  HUBUNGI SAYA