Dari Ie-thian-to-liong, Bagian II, Jilid 2, Halaman 111-113
Terjemahan Boe-beng-tjoe, Terbitan Mekar Djaja

Boe Kie sendiri diantar ke sebuah kamar yang diperaboti mewah dan indah. Selagi ia
mengeringkan air di badannya, tiba-tiba pintu diketuk dan ditolak. Seorang wanita yang
kedua tangannya menyangga seperangkat pakaian bertindak masuk dan wanita itu adalah
Siauw Ciauw.
"Kongcoe, biarlah aku melayani kau," kata si-nona.
Boe Kie merasa sangat terharu. "Siauw Ciauw," katanya, "sekarang kau sudah menjadi
Kauw-coe dari Congkauw dan pada hakekatnya aku sendiri adalah orang sebawahanmu. Mana
boleh kau melakukan lagi pekerjaan pelayan?"
"Kongcoe, inilah untuk penghabisan kali," kata si-nona. "Kita akan segera berpisahan
jauh, jauh sekali, dan kita tak akan dapat bertemu pula. Sesudah aku berada di negeri
orang, biarpun mau, tak bisa aku melayani kau lagi."
Boe Kie merasa hatinya hancur. Sambil menahan turunnya air mata, ia membiarkan si-nona
melayaninya -- membantu ia memakai baju, mengancing baju, mengikat tali pinggang dan
menyisir rambutnya. Sambil melakukan itu semua, air mata Siauw Ciauw terus mengalir
turun dikedua pipinya.
Boe Kie tak dapat mempertahankan dirinya lagi. Tiba-tiba ia memeluk-memeluk erat-erat.
Bagaikan bendungan pecah si-nona menangis tersedu-sedu. Dengan tubuh bergemetaran, ia
balas memeluk. "Siauw Ciauw," bisik Boe Kie, "semula aku bahkan menduga kau berkhianat
terhadapku. Tak dinyana, rasa cintamu begitu besar."
Sambil menyandarkan kepalanya pada dada yang lebar, si-nona berkata dengan suara
perlahan: "Kongcoe, aku memang pernah menipu kau. Ibuku adalah salah seorang dari
ketiga Seng-lie Cong-kauw. Ia mendapat perintah untuk datang di Tiong-goan guna melakukan
suatu pekerjaan penting dengan pengertian, bahwa kalau nanti kembali di Persia, ia akan
menduduki kursi Kauwcoe. Tak disangka, begitu bertemu dengan Ayah, Ibu jatuh cinta dan
tidak dapat menguasai dirinya lagi. Ketika ayah meninggal dunia, aku masih berada didalam
kandungan dan aku belum pernah melihat wajahnya. Ibu tahu, bahwa ia berdosa besar.
Ia menyerahkan cincin besi Seng-lie kepadaku dan memerintahkan aku pergi ke
Kong-beng-teng untuk mencuri sim-hoat (pelajaran) Kian-koen Tay-lo-ie. Kongcoe, di
dalam hal ini, aku sudah menipu kau. Aku tidak memberitahukan hal yang sebenarnya
kepadamu. Akan tetapi, hatiku bersih. Sedikitpun aku tak punya niatan untuk menjadi
Kauw-coe dari Beng-kauw di Persia. Aku hanya mengharap untuk menjadi pelayanmu, untuk
melayani kau seumur hidup, untuk tidak berpisahan denganmu selama-lamanya. Aku pernah
memberitahukan harapanku itu kepadamu, bukan? Dan kau sendiri sudah meluluskan.
Bukankah begitu?"
Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya.
Sesudah berdiam sejenak, si-nona berkata pula: "Aku telah menghafal sim-hoat
Kian-koen Tay-lo-ie, tapi aku menghafalnya bukan lantaran didorong oleh niatan untuk
berkhianat terhadapmu. Kalau bukan karena terlalu kepaksa, aku pasti tidak akan
memberitahukan mereka..."
"Sudahlah, kau tak usah bersedih lagi," bisik Boe Kie. "Sekarang aku sudah mengerti
semuanya."
"Sedari kecil, aku sudah melihat kekuatiran Ibu," kata pula Siauw Ciauw. "Siang-malam,
ia tak tenteram. Belakangan ia menyamar sebagai nenek yang bermuka jelek. Ia mengirim aku
kepada lain keluarga dan hanya menengok aku setahun sekali atau dua tahun sekali.
Kongcoe, kalau kau dan yang lain-lain tidak menghadapi kebinasaan, jangankan menjadi
Kauwcoe, sekalipun menjadi ratu Persia, aku pasti akan menolak." Sehabis berkata begitu,
ia menangis pula dengan badan gemetaran.
"Siauw Ciauw!" mendadak terdengar bentakan Taykis diluar kamar. "Jika kau tidak bisa
menahan diri, itu berarti kau mengantarkan jiwanya Kongcoe."
Bagaikan dipagut ular, si-nona memberontak dari pelukan Boe Kie dan melompat mundur.
"Kongcoe, jangan ingat-ingat aku lagi," katanya dengan suara parau. "In Kouwnio telah
mengikuti Ibu dalam banyak tahun dan ia sangat mencintai kau. Ia akan menjadi seorang
isteri yang budiman."
"Siauw Ciauw," bisik Boe Kie. "Mari kita menerjang keluar dan membekuk satu-dua
Po-soe-ong. Kita bisa paksa mereka untuk mengantarkan kita ke Leng-coa-to."
Si-nona menggelengkan kepala. "Sekarang mereka sudah berjaga-jaga," katanya. "Tubuh Cia
Tayhiap dan Co Kouwnio ditandalkan senjata. Kalau kita bergerak, mereka binasa." Seraya
berkata begitu, ia membuka pintu. Di depan pintu berdiri Taykis yang punggungnya dituding
dengan dua pedang oleh dua orang Persia. Kedua orang itu membungkuk, tapi pedang mereka
tidak berkisar dari punggung Cie-san Liong-ong.
Dengan diikuti Boe Kie, si-nona berjalan keluar. Benar saja mereka melihat, bahwa Cia
Soen dan yang lain-lain berada dibawah ancaman senjata.
"Kongcoe," kata Siauw Ciauw, "aku akan memberikan kau obat untuk mengobati luka In Kouwnio."
Ia lalu bicara dalam bahasa Persia dan Kong-tek-ong segera mengeluarkan sebotol obat luar
yang lalu diserahkan kepada Boe Kie. "Aku akan memerintahkan orang untuk emngantar kalian
pulang ke Tionggoan," kata pula si-nona. "Sekarang saja kita berpisahan. Kongcoe, badan
Siauw Ciauw berada di Persia, hatinya tetap bersama-sama kau. Siang dan malam aku berdoa
supaya kau selalu sehat dan segala pekerjaan bisa berjalan lancar...." Ia tak dapat
meneruskan perkataannya.
"Kau berada di sarang harimau, jagalah diri baik-baik," kata Boe Kie.
Si-nona mengangguk dan lalu memerintahkan orang untuk menyediakan perahu.
Sesudah Cia Soen, In Lee, Tio Beng dan Cie Jiak turun ke perahu, Siauw Ciauw segera
memulangkan To-liong-to, Ie-thian-kiam dan enam Seng-hwee-leng kepada Boe Kie. Sambil
tertawa sedih, ia mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan. Boe Kie berdiri terpaku.
Ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata. Selang beberapa saat, dengan hati seperti tersayat
pisau, ia melompat turun ke perahu.