|
|
 |
 |
 |
 |
|
 |
PENGARANG CERITA SILAT TERBESAR SEPANJANG MASA |
|
 |
|
|

Di dalam dunia fiksi Cerita Silat China terdapat 3 tokoh pengarang utama:
Liang Yusheng, yang dipandang sebagai pencipta dari Cerita Silat Gaya Baru.
Jin Yong yang merupakan penulis cerita silat terpopuler,
ialah yang telah membawa novel cerita silat mencapai puncak kejayaannya. Dan yang terakhir,
Gu Long, yang dianggap sebagai penulis cerita silat terbesar
yang terakhir. Gaya dari ketiga laki-laki hebat ini cukup berbeda, karya Liang Yusheng
dipandang sebagai karya yang ortodok, Jin Yong karya-karyanya dianggap semi-ortodok, dan
Gu Long memiliki gaya yang tidak ortodok/modern.
Karakteristik tokoh-tokoh jagoan dalam karya-karya mereka adalah sebagai berikut:
Liang Yusheng: Semua cerita-ceritanya memiliki latar belakang historis, biasanya pada
masa kekacauan dan peperangan dalam sejarah China. Tokoh jagoannya, karena latar belakang
kemampuan silat/kungfu mereka, merasa terpanggil untuk memberikan sumbangsih yang terbaik
kepada negara dan rakyat negaranya. Sebagai anggota-anggota dari partai-partai silat ortodok,
mereka sangat idealistis dan seringkali melayani Kaisar dan pemerintahan negaranya karena
mereka merasa bahwa Kaisar dan pejabat-pejabat pemerintahannya mewakili negara mereka.
Meskipun mereka mencoba melakukan yang terbaik, usaha mereka mendapat tantangan berat dari
pejabat yang korup yang dibantu oleh jago-jago silat jahat. Pada akhir cerita, sang tokoh
jagoan belum mampu mencapai apa-apa. Cerita-cerita dari Liang Yusheng selalu berakhir
dengan tragis.
Jin Yong: Hampir semua novel-novelnya memiliki latar belakang historis, masa-masa
kekacauan saat negara-negara pergi berperang untuk menguasai China Daratan atau berbagai
orang/grup berjuang dengan keras untuk memperoleh kekuasaan di dalam dunia persilatan.
Tokoh-tokoh jagoan Jin Yong seringkali sama sekali tidak memiliki ambisi untuk menjadi orang
penting dalam masyarakat, namun karena berbagai hal, mereka terseret masuk ke dalam pusaran
peperangan, politik, masalah-masalah rasial, dan dendam yang turun-temurun.
Tokoh-tokoh Jin Yong memulai latihan mereka dengan sekolah-sekolah kungfu ortodok, namun
setelah itu mereka belajar gaya yang non-ortodok untuk mengembangkan kemampuan asli mereka. Sangat
berjiwa patriotik, mereka bersedia mengorbankan diri mereka sendiri bagi negara dan
rakyatnya, namun mereka menolak untuk melayani pemerintahan yang ada karena mereka tidak
memiliki kepercayaan kepada pemerintahan dengan pejabat-pejabatnya yang korup dan
kaisar-kaisarnya yang bodoh.
Tokoh-tokoh utama dalam novel Jin Yong pada akhirnya menjadi
pemimpin/tokoh penting dan sukses, namun mereka menghadapi berbagai dilema, seringkali terpecah
antara “baik” dan “buruk”, “han” atau “orang barbar”, “persahabatan” atau “kesetiaan”,
“cinta” atau “tanggungjawab”, dsb. Setelah mencapai (sebagian) dari tujuan mereka,
mereka mengasingkan diri dari masyarakat untuk menjalani kehidupan sederhana bersama dengan
orang yang mereka cintai, ke tempat yang terasing jauh dari dunia persilatan yang penuh
dengan pertumpahan darah.
Akhir cerita yang bahagia dari novel-novel Jin Yong semuanya
mengandung sedikit tragedi, meskipun tokoh-tokoh utama dalam novel Jin Yong berhasil mencapai
prestasi yang luar biasa dalam dunia persilatan dan (seringkali) berhasil menemukan cinta sejati
dalam hidup mereka, mereka merasa kecewa karena mereka tahu meski mereka dapat menemukan kedamaian
itu, banyak orang masih mengalami penderitaan dan tak banyak yang dapat mereka lakukan untuk itu.
Gu Long: Tidak berlatarbelakangkan sejarah. Latar belakang ilmu silat dari tokoh-tokoh
utamanya juga tidaklah jelas. Mereka sama sekali tidak menunjukkan sikap hormat kepada pejabat
dan pemerintah. Penekanan cerita Gu Long adalah pada persahabatan sejati antar tokoh-tokoh pria
utamanya. Tokoh-tokoh tersebut melakukan petualangan murni karena rasa keingintahuan dan sifat
keadilan mereka.
Tokoh-tokoh utama Gu Long sedikit menyerupai Scooby Doo dan gerombolannya. Chu Luxiang berkata
kepada teman-temannya: “Orang yang membunuh Lingjiuzi, Zuo Youzheng, dan yang lainnya; Ninja yang
menyerang saya di dekat danau; laki-laki yang menyamar sebagai pendekar pedang jepang, DAN orang
yang bertanggungjawab atas kematian Nangong Ling… mereka sebetulnya adalah orang yang sama! Dan ia
adalah si biksu Wuhua!!!” Wuhua menjawab: “Ya! Dan saya seharusnya bisa bebas dari semua ini, kalau
bukan karena engkau bocah tukang turut campur!!!”
Seorang penulis terkenal pernah berkata bahwa tokoh-tokoh jagoan Liang Yusheng adalah tokoh-tokoh
yang Confucianist: idealistik dan moralistik. Tokoh-tokoh utama Jin Yong adalah tokoh-tokoh yang
bersifat Buddhist: enggan bersinggungan dengan perkara-perkara duniawi, mencoba menghindari penderitaan.
Tokoh-tokoh Gu Long, di sisi yang lain, adalah Taoist: bebas dan tak terikat.
|
|
|
|
|
|
 |
|
 |
 |

|
|
 |
|
 |